Kamis, 10 Agustus 2017


SEJARAH DESA JENANGGER



Pada zaman dahulu, disebuah desa tanpa nama, hiduplah seorang putri cantik jelita, Jenang namanya. Dia adalah putri dari seorang petani janda yang sering disapa mbok rondo. Putri dari mbok rondo ini adalah salah satu gadis yang menjadi bunga desa. Keelokan wajahnya telah memikat jejaka-jejaka di desanya bahkan pula jejaka diluar desanya. Sayangnya, sang bunga desa telah menambatkan cintanya kepada seorang pemuda didesanya yang juga seorang anak petani bernama Joko Nangger. Jaka Nangger adalah pria yang gagah dan pemberani. Suatu ketika Putri Jenang tidak hanya disukai oleh para laki-laki di desa maupun di luar desa tersebut. Kala itu Putri jenang disukai oleh raksasa yang bernama Landaur. Putri Jenang yang sudah jatuh hati pada Jaka Nangger berusaha menolak Landaur. Putri Jenang tidak menyukai Landaur dan tidak menginginkan ia dipersunting Landaur. Putri Jenang saat itu berusaha untuk mencari cara agar ia tidak dipersunting raksasa tersebut.
Pada akhirnya Putri Jenang mengajukan sebuah syarat untuk Landaur. Putri jenang bersedia menikah dengan Landaur jika raksasa tersebut berhasil membawakan “jenang”. Jenang adalah jenis makanan yang menyerupai “dodol”. Syarat yang diajukan putri Jenang yakni Landaur harus membawakan ia satu pikul jenang raksasa sebelum matahari terbit. Saat itu Landaur menyanggupi permintaan dari Putri Jenang. Pada akhirnya Landaur berhasil membawakan sang putri  satu pikul jenang. Saat itu Landaur memikul menggunakan pohon maronggi  atau dapat disebut dengan pohon kelor.  pada saat Landaur akan sampai di hadapan putri Jenang pikulan tersebut patah dan satu pikul jenang yang  dibawanya terjatuh. Terjatuhnya pikulan jenang yang dibawa oleh Landaur  tepat pada terbitnya matahari. Hal tersebut membuat Landaur  gagal mempersunting Putri Jenang. Kegagalan tersebut membuat Landaur marah besar. Saat Landaur marah terhadap Putri Jenang dan kegagalannya, ia akan memporak-porandakan desa. Pada saat itu  datanglah Jaka Nangger yang memberikan perlindungan kepada Putri Jenang.
Kedatangan Jaka Nangger saat itu memicu peperangan antara Jaka Nangger dan Landaur. Pertarungan tersebut berlangsung sangat sengit. Pada akhirnya pertarungan tersebut dimenangkan oleh Jaka Nangger. Kemenangan Jaka Nangger membuat Landaur pergi meninggalkan desa dengan kemarahan dan di sisi lain bersatunya Jaka Nangger dan Putri Jenang. Bersatunya Jaka Nangger dan Putri Jenang membuat sebuah desa tersebut dinamakan Jenangger. Jenangger merupakan singakatan dari Jenang dan Nangger. Bukti sejarah tersebut masih terhembus di masyarakat desa Jenangger. Menurut kepercayaan masyarakat  bahwa asal usul desa  Jenangger masih memiliki bukti yang nyata. Bukti yang diyakini masyarakat yakni adanya dua gunung yang terpisah dan terbagi menjadi gunung barat dan gunung timur. Gunung yang terpisah tersebut diyakini sebagai bukti dua jenang yang telah dijatuhka oleh Landaur. Saat ini gunung tersebut dinamakan “Gunung Pekol” yang dapat diartikan sebagai gunung yang terbentuk dari terjatuhnya pikulan jenang dari Landaur yang saat ini menjadi tiga sumur di Desa Jenangger. Hingga saat ini di Desa Jenangger juga dipercaya terdapat tiga jejak kaki Landaur.
By : Jamiah Triana
Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar