Kamis, 10 Agustus 2017

Budaya


Lalobaran-Tradisi Memohon Hujan Kepada Sang Pencipta

            Sebagai desa dengan mayoritas mata pencaharian penduduknya adalah petani dan pekebun, hujan merupakan hal yang sangat diharapkan kedatangannya. Oleh karena itu, ketika musim kemarau berkepanjangan tiba, para petani dan pekebun didesa akan memanjatkan doa kepada Allah S.W.T untuk meminta diturunkan hujan dengan segera. Proses memanjatkan doa untuk meminta hujan dilakukan dengan berbagai macam cara unik sesuai kepercayaan dan tradisi yang mereka miliki, seperti yang dilakukan para petani dan pekebun di desa Jenangger, kecamatan batang-batang, Sumenep.
            Dalam memanjatkan doa kepada Allah S.W.T untuk meminta hujan, para petani dan pekebun desa Jenangger memiliki upacara sakral unik tersendiri yang dikenal dengan nama Lalobaran. Sebelum upacara berlangsung, para petani dan pekebun akan menyiapkan segala persiapannya. Salah satunya adalah membersihkan makam para leluhur mereka. Ketika waktu upacara sudah tiba, mereka akan berbondong-bondong pergi ke makam para leluhur mereka dengan membawa segala sesuatu yang telah mereka persiapkan, seperti Rasol (sejenis nasi tumpeng), hasil kebun, dan lain-lainnya. Kemudian, mereka akan berdoa bersama sebelum membagikan hasil kebun dan rasol yang sudah mereka bawa, tujuannya adalah untuk bertawasul. Setelah prosesi doa bersama selesai, maka nasi rasol dan makanan lainnya akan dibagi rata.
Selain sebagai upacara meminta hujan kepada Allah S.W.T, Lalobaran merupakan sarana silaturahmi antar warga dusun. Agar ikatan kekeluargaan yang sudah terjalin diantara mereka dapat terus terjaga dengan baik dan semakin erat. Tidak hanya itu, tradisi ini juga menjadi sarana bersedekah kepada sesama agar Allah S.W.T mencurahkan rahmatnya kepada mereka dan mereka mendapatkan pahala dari sedekah yang mereka keluarkan. Sehingga, jalinan antara manusia dengan tuhan dan jalinan antara manusia dengan manusia dapat berjalan selaras.

Oleh: Mahbub Arham Arrozy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar